GELOMBANG ULTRASOUND INTENSITAS TINGGI ( HIFU )

Gelombang ultrasound intensitas tinggi (HIFU) dapat dikenal sebagai operasi yang bertumpu pada ultrasound / ultrasonik, yang mana penggunaannya menggunakan energi yang terfokus untuk memanaskan dan menghancurkan jaringan – jaringan pada pengobatan dari berbagai macam kondisi medis.

Banyak di antara anda yang mungkin pernah mendengar tentang HIFU untuk terapi atau pengobatan fibroid. Acapkali kesan utama yang kita dapat bahwa HIFU tidaklah efektif untuk terapi fibroid. Baru – baru ini, saya telah memperkenalkan modalitas baru yang dinamakan ultrasonik berbasis HIFU (USgHIFU) sebagai perbandingan dari modalitas lama (MRgFUS). Di sini saya akan menguraikan perbedaan antara 2 modalitas ini dan apa saja manfaat – manfaat dari USgHIFU untuk terapi / pengobatan fibroid dan adenomiosis.

Apa itu HIFU?

Gelombang ultrasound intensitas tinggi (HIFU) dapat dikenal sebagai operasi yang bertumpu pada ultrasound / ultrasonik, yang mana penggunaannya menggunakan energi yang terfokus untuk memanaskan dan menghancurkan jaringan – jaringan pada pengobatan dari berbagai macam kondisi medis. HIFU merupakan prosedur terapi non-invasif, terapi organ, termal ablatif. Prinsip dari pengobatan ini apabila digambarkan serupa dengan konsep yang memusatkan cahaya sinar matahari melalui kaca pembesar untuk membakar daun hingga berlubang. Seperti kaca pembesar yang memiliki titik fokus intensitas tertinggi, transduser ekstrakorporeal yang digunakan pada pengobatan ini berfokus pada gelombang ultrasonik intensitas tinggi pada jaringan yang telah ditargetkan, dan menyimpan energi ultrasonik dengan tingkat tinggi. Energi yang sangat terkonsentrasi ini dengan demikian akan diserap oleh jaringan yang menghasilkan suhu antara 60 derajat celcius hingga 80 derajat celsius untuk memanaskan sel – sel yang abnormal.

Di bawah pedoman pencitraan yang presisi, getaran energi akustik berintensitas tinggi di konversikan menjadi energi panas pada titik fokus sehingga mengakibatkan nekrosis koagulatif dan penghancuran jaringan yang telah ditargetkan. Bahkan, HIFU dapat membuat gelombang tekanan pada jaringan yang menjadikan jaringan bergetar dan menghasilkan kavitasi dan stres pada sel, sehingga menyebabkan kematian pada sel. Karena transduser membuat sinar ultrasonik terfokus pada titik fokus, akan ada cedera minimal di antara jaringan.

 

Manfaat - manfaat apa saja yang didapatkan dari HIFU untuk penyakit?

HIFU banyak sekali digunakan untuk kondisi medis seperti penyakit batu ginjal, katarak, kelainan saraf, nodul tiroid jinak, dan ablasi hipertrofi kelenjar paratiroid, ablasi fibroadenoma payudara, penyakit prostat, penyakit ginekologi jinak, tumor padat dan terapi paliatif. Dalam Ginekologi, HIFU dapat juga digunakan untuk mengobati fibroid rahim, adenomiosis, servisitis, dan vulvular.

Jenis - jenis HIFU

Hifu terdiri dari 2 teknik yang berbeda dan tergantung dari monitor diagnostik yang digunakan. Kedua tipe diantara lainnya ialah : MRgFUS ( Magnetic Resonance Imaging Focused Ultrasound Surgery ) yang mana penggunaannya menggunakan pencitraan resonansi magnetik (MRI) sebagai modalitas pencitraan dan USgHIFU ( Ultrasound guided High Intensity Focused Ultrasound) yang menggunakan pemindaian ultrasonik sebagai modalitas pencitraannya.

Kedua teknik ini menawarkan masing – masing keuntungan dan kekurangan yang berbeda seperti yang ditunjukkan di dalam Tabel 1.

Mengapa memilih pengobatan dengan menggunakan USgHIFU ?

Semenjak HIFU bukanlah merupakan pengobatan non-invasif, pasien menjadi bebas dari bekas luka dan dapat sembuh dengan waktu yang singkat. Durasi dari setiap sesi pengobatan USgHIFU berkisar dari 1 hingga 4 jam. Sebagian besar dari pengobatan dapat diselesaikan hanya pada satu sesi. Akan tetapi, pasien yang memiliki ukuran fibroid yang berdiameter ganda atau besar mungkin diperlukan untuk menjalani beberapa sesi.

Selama proses prosedur , pasien tidak memerlukan anestesi umum / bius total, kondisi mereka akan tetap sadar dan diperbolehkan untuk berkomunikasi dengan orang lain,melakukan aktifitas yang ringan seperti membaca buku atau dapat juga menonton film. Selama pengobatan, pasien hanya akan kehilangan darah yang sedikit sehingga tidak diperlukan transfusi darah. Pasien hanya akan mengalami sedikit rasa ketidaknyamanan.Sebagian besar dari pasien dapat dipulangkan setelah sedasi habis saat hari pengobatan apabila tidak adanya komplikasi.

Wanita yang sedang masa subur memiliki hasrat seksual yang tinggi tentu saja mendapatkan manfaat dari pengobatan menggunakan HIFU karena mereka tidak perlu menunggu rahim mereka pulih sepenuhnya untuk mencoba kehamilan. Mereka dapat melanjutkan hubungan seksual saat setelah menyelesaikan siklus menstruasi selanjutnya.

Bagaimana HIFU di lakukan ?

Persiapan usus praoperasi hendaknya diperlukan selama 4 hari sebelum operasi. Pasien akan di minta untuk melakukan diet dengan rendah serat disertai dengan diet cair yang diberikan 12 jam sebelum operasi. Pasien juga harus berpuasa selama 12 jam.

Pasien yang telah diberikan sedasi ringan selama prosedur dan diperlukan berbaring tengkurap selama operasi. Setelah USgHIFU, aliran darah ke jaringan yang dirawat diperiksa dengan menggunakan kontras ultrasonik yang ditingkatkan ( misalnya Sonovue ). Pada pasca operasi pasien perlu diamati selama beberapa jam dan dapat dipulangkan pada hari yang sama.

Silakan tonton video ini:

Efikasi USgHIFU pada fibroid

Rasio volume non-perfusi adalah rasio volume non-perfusi dari semua lesi yang dirawat dengan total volume lesi. Di evaluasi oleh MRI dan dilakukan setelah operasi USgHIFU. Nilai Rasio NPV yang lebih tinggi mengindikasikan kurangnya perfusi darah pada lesi, apabila tidak menunjukkan hasil pengobatan yang baik dengan resiko intervensi ulang yang lebih rendah. Dalam sebuah penilitian retrospektif yang dilakukan di china dengan menggunakan USgHIFU, 98,4% (7319 dari 7439 partisipan) dari penderita fibroid berhasil diablasi dengan rasio NPV 83,1 + 15.6%(1) . Rasio NPV adalah >70% di >80% dari fibroid yang ditangani sementara itu tingkat intervensi ulang adalah <10%. Hasil positif dari pengobatan ini juga ditunjukkan pada penelitian M.Zou dkk (2). Rata-rata tingkat pengurangan volume adalah 45,2 + 21,3% dan 59+25,6% masing-masing pada 3 dan 6 bulan setelah pengobatan USgHIFU. Tidak ada efek samping ataupun komplikasi yang ditemukan selama bahkan saat setelah pengobatan. Penelitian lain melaporkan juga rasio NPV 84,15 + 10,4% pasca pengobatan(3).

Efikasi USgHIFU pada adenomiosis

Di antara 224 pasien yang dipulihkan pada penelitian Lian dkk, NPV yang dilaporkan ialah 49,4 + 37,5 cm3 dan rasio NPV adalah 72,7 + 18% pasca USgHIFU (4). Sejumlah 203 pasien dilaporkan mengalami gejala dismenore pasca pengobatan dengan tingkat pertolongan 84,7%, 84.7% dan 82.3% pada 3 bulan, 1- dan 2-tahun. Volume menstruasi berkurang secara signifikan di antara 109 pasien dengan tingkat pertolongan 79,8%, 80,7% dan 78,9% masing-masing dalam waktu 3 bulan, 1 dan 2 tahun. Zhou dkk dan Liu dkk juga membuktikan bahwa USgHIFU adalah aman dan efektif dalam mengurangi gejala-gejala dan mengablasi lesi (5,6). Dengan membandingkan efektifitas USgHIFU dalam adenomiosis fokal dan difus, tidak adanya perbedaan signifikan yang ditemukan yang ditemukan dalam NPV rasio dan peringanan gejala (7). Singkatnya, USgHIFU dapat mengobati adenomiosis fokal dan difus.

Potensi Kesuburan

Karena HIFU dapat mengablasi lesi dengan presisi, sehingga dapat membantu mempertahankan otot-otot rahim di sekitarnya, serat kolagen dan elastisitas (2). Tanpa melukai jaringan-jaringan yang sehat dan pembentukan bekas luka yang lebih sedikit pada dinding rahim, ekspansi rahim untuk mengakomodasi kehamilan dan kontraktilitas selama persalinan dapat ditahan (2,8-10). Pasien dapat juga mencoba untuk dapat hamil jauh lebih cepat setelah pengobatan HIFU dibandingkan dengan miomektomi. Penelitian juga telah menunjukkan hasil kehamilan yang sukses dalam beberapa bulan setelah pengobatan HIFU pada fibroid baik dari kehamilan alami maupun dari reproduksi berbantu (8,11,12). Zhou dkk juga telah melaporkan 54 dari 68 pasien dengan adenomiosis yang mengandung saat 10 bulan pasca-HIFU dan 21 diantaranya disampaikan tidak adanya komplikasi (8).

Efek samping

Efek samping yang paling umumnya terjadi yang di ungkapkan adalah rasa sakit pada area yang diobati, nyeri ringan pada sakrokosigeal dan keputihan pada vagina yang abnormal. Semua efek samping ini dapat dijelaskan dari peradangan yang disebabkan karena efek termal HIFU. Biasanya efek sampingnya akan hilang dalam waktu 3 hari. Keputihan yang abnormal biasanya terlihat di antara pasien dengan fibroid submukosa dan adenomiosis saat dimana endometrium rusak selama proses HIFU. Akan tetapi, gejala ini akan hilang atau mereda setelah menjalani histeroskopi untuk mengangkat jaringan nekrotik.

Efek samping minor yang lain seperti parestisia / kesemutan pada area tungkai bawah, rasa mual dan muntah, kulit melepuh, demam dan juga hematuria / kencing berdarah jarang terjadi dan dapat diungkapkan karena penggunaan obat penenang, inflamasi, luka saat pemasangan kateter uretra. Pada beberapa pasien dengan rahim yang terbalik juga dapat mengalami retensi urine yang dapat ditangani kateter urin yang dipasang selama 3 hari. Dalam Penelitian Liu dkk , 38 dari total jumlah 27053 pasien dengan penderita penyakit rahim jinak yang diobati dengan USgHIFU mengalami luka bakar pada kulit tingkat 2 atau 3 (0,1405%) (13). Semua dari 38 pasien ini memiliki bekas luka perut pada operasi sebelumnya. Jaringan parut yang didenervasi bersifat fibrotik, lebih sedikit rasa dan vaskular dibandingkan dengan jaringan normal sehat yang dapat menyebabkan gelombang ultrasound kesulitan saat menembus. Malahan, jaringan parut akan mudah menyerap energi ultrasound yang menghasilkan kerusakan termal pada kulit. Untuk mencegah adanya luka bakar pada kulit, ginekolog harus secara rutin dan teratur memeriksa area kulit dan memindahkan transduser ke dalam tangki air. Di sisi lain, nyeri pada kaki dan mati rasa pasca HIFU disebakan oleh iritasi saraf sakral. Hal ini hanyalah bersifat sementara dan akan pulih dengan bantuan NSAID dalam waktu 2 minggu.

Cedera pada usus jarang terjadi namun merupakan komplikasi yang merusak. Liu dkk melaporkan sebanyak 4 pasien (0, 01485%) mengalami cedera usus dan perforasi 4 – 12 hari pasca HIFU akan tetapi telah pulih sepenuhnya setelah operasi perbaikan (13). Salah satu yang menjadi alasannya ialah usus tidak terdorong sepenuhnya oleh pelepasan gas pada balon air dari jalur akustik sehingga menyebabkan cedera termal langsung pada usus. Alasan lainnya juga dapat disebabkan karena adanya adenomiosis dan endometriosis yang mana memiliki tingkat resiko tinggi adhesi panggul. Apabila usus menempel ke rahim atau dinding perut, maka resiko cedera usus akan meningkat secara signifikan.

Secara keseluruhan, tingkat efek samping utama yang dinyatakan ialah rendah. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa metode USgHIFU merupakan aman dalam menangani atau mengobati pasien dengan penyakit rahim jinak.

Siapa saja yang cocok untuk menjalani HIFU ?

Agar dapat mengoptimalkan hasi dari UsgHIFU, lemak tubuh dari dinding perut harus <4cm dan jarak antara kulit perut ke lesi harus <13cm.Ukuran fibroid rahim harus 1cm-12cm. Lesi dengan fokus hyperintense yang rendah pada pemindaian MRI T2 memiliki tingkat keberhasilan yang rendah pula. Lesi hyperintense mengandung perfusi yang tinggi yang dapat memungkinkan panas menghilang lebih cepat sehingga menghasilkan rasio NPV yang lebih rendah. Untuk sisi keamanan, lesi yang jaraknya dekat dengan permukaan tulang sebaiknya tidak disarankan menggunakan metode HIFU.

Jadi, pasien yang memiliki dinding perut yang lebih tipis, suplai darah yang buruk ke lesi, volume lesi yang lebih besar, fokus hyperintense yang rendah dari pemindaian MRI T2 dan juga lesi yang terletak pada dinding anterior rahim merupakan kandidat pasien yang paling ideal untuk pengobatan melalui HIFU.

Pasien yang bagaimana saja yang harus dikecualikan dari pengobatan oleh HIFU ?

  • Tumor serviks karena adanya resiko kontraksi serviks selama pengobatan HIFU
  • Interposisi pada usus di jalur pancaran USS
  • Bekas luka kulit yang panjang / lebar
  • Riwayat sebelumnya operasi perut bagian bawah yang dapat menyebabkan kesulitan saat mengekspos lesi
  • Riwayat operasi rahim dalam 3 bulan terakhir
  • Infeksi yang akut atau kronis
  • Komordibitas yang tidak terkendali ( hipertensi, riwayat stroke, penyakit jaringan yang terhubung, dan radioterapi )
  • Leiomiosarkoma
  • Pasien yang tidak bisa berbaring diam lebih dari 1 jam
  1. USgHIFU untuk pengobatan penyakit ginekologi : sebuah review tentang keamanan dan efikasi. Zhang L, Zhang W, Orsi F, Chen W, Wang Z. 3, 2015, Int J Hyperthermia, Vol. 31, pp. 280-284.
  2. Hasil kehamilan pada pasien fibroid rahim yang di obati dengan USgHIFU. Zou M, Chen L, Wu C, Hu C, Xiong Y. s.l. : BJOG, 2017, Vol. 3, pp. 30-35.
  3. Hasil kehamilan yang tidak diinginkan setelah USgHIFU ablasi fibroid rahim. Qin J, Chen JY, Zhao W, Hu L, Chen WZ, Wang ZB. 3, s.l. : Int J Gynaecol Obstet, 2012, Vol. 117, pp. 272-277.
  4. HIFU untuk adenomiosis: hasil tindak lanjut 2 tahun. Shui L, Mao S, Wu Q, Huang G, Wang J, Zhang R, Li K, He J, Zhang L. s.l. : Ultrason Sonochem, 2015, Vol. 27, pp. 677 – 681.
  5. UsgHIFU untuk ablasi adenomiosis: pengalaman klinis dari satu pusat. Zhou M, Chen JY, Tang LD, Chen WZ, Wang ZB. 3, s.l. : Fertil Steril, 2011, Vol. 95, pp. 900 – 905.
  6. Prediktor klinis dari keberhasilan USgHIFU dalam jangka panjang untuk adenomiosis. Xin Liu, Wei Wang, Yang Wang, Yuexiang Wang, Qiuyang Li, Jie Tang. 3, s.l. : Medicine (Baltimore), 2016, Vol. 95.
  7. Terapi ablasi adenomiosis efektif dengan USgHIFU. Zhang X, Li K, Xie B, He M, He J, Zhang L. 3, s.l. : Int J Gynaecol Obstet, 2014, Vol. 124, pp. 207 – 211.
  8. Hasil persalinan pervaginam kehamilan setelah pengobatan USgHIFU untuk ablasi fibroid rahim. Liu X, Xue L, Wang Y, Wang W, Tang J. 1, s.l. : Int J Hyperthermia, 2018, Vol. 35, pp. 510 – 517.
  9. Hasil kehamilan pada wanita nulipara setelah ultrasonik ablasi uterine: Penelitian tunggal-sentral retrospektif. Shu LJ, Wang Yong, Chen J, Chen W. 3977, s.l. : Scientific Reports, 2017.
  10. Kehamilan dan persalinan normal setelah MRgFUS pada mioma uteri. Yoon SW, Kim KA, Kim SH, Ha DH, Lee C, Lee SY. 3, s.l. : Yonsei Med J, 2010, Vol. 51, pp. 451 – 453.
  11. MRgFUS untuk pengobatan / terapi konservatif fibroid rahim. Rabinovici J, David M, Fukunishi H, Morita Y, Gostout BS, Stewart EA, MRgFUS study group. 1, s.l. : Fertil Steril, 2010, Vol. 93, pp. 199 – 209.
  12. Hasil kehamilan yang tidak diinginkan setelah USgHIFU ablasi pada fibroid rahim. Qin J, Chen JY, Zhao WP, Hu L, Chen WZ, Wang ZB. 3, s.l. : Int J Gynaecol Obstet, 2012, Vol. 117, pp. 273 – 277.
  13. Analisis efek samping dari gelombang ultrasonik intensitas tinggi pada pengobatan penyakit rahim jinak. Liu Y, Zhang WW, He M, Gonf C, Xie B, Wen X, Li D, Zhang L. 1, s.l. : Int J Hyperthermia, 2018, Vol. 35, pp. 56 – 61.

Our Book

Laparoscopic Surgery In Gynaecology And Common Diseases In Women.

Copyrights © 2020 Selva's Fertility, Obsterics & Gynaecology Clinic. All Rights Reserved.